Berduka Bagi Korban Kecelakaan KRL, Puan: Keamanan Jalur Kereta Harus Diperbaiki!

Post Image Ketua DPR RI, Dr. (H.C.) Puan Maharani.

Author: RZ

Created: Apr 29, 2026

Category: Nasional

Views: 37

www.manggalanews.com – Jakart. Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani menyampaikan belasungkawa kepada korban insiden kecelakaan kereta api (KA) jarak jauh dengan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Ia pun mengingatkan agar unsur keselamatan di jalur kereta harus ditingkatkan.

 “Atas nama pribadi maupun atas nama DPR RI, saya sampaikan dukacita mendalam untuk para korban dalam kecelakaan kereta api yang terjadi semalam di wilayah Bekasi,” kata Puan Maharani dalam keterangan tertulisdi Jakarta, Selasa (28/4/2026).

Seperti diketahui, insiden KRL dengan kereta jarak jauh yang terjadi pada Senin (27/4) malam bermula saat taksi listrik ditabrak KRL di daerah Bulak Kapal karena taksi itu terhenti di tengah perlintasan sebidang. Taksi tersebut berada di area rel sebelum akhirnya tertemper KRL menuju arah Jakarta. 

Kondisi itu menyebabkan perjalanan KRL atau commuter line dari Jakarta menuju Cikarang terganggu dan rangkaian berhenti di jalur. Tak berselang jauh, KA Argo Bromo Anggrek yang melaju dari arah belakang menabrak KRL yang tengah berhenti.

Saking kerasnya benturan, lokomotif KA Argo Bromo Anggrek sampai merangsek masuk ke badan gerbong khusus wanita yang ada di bagian paling belakang KRL. Insiden ini menyebabkan 14 orang meninggal dunia dan 84 lainnya terluka.

“Kita minta Pemerintah, KAI, bersama stakeholder terkait untuk lebih memprioritaskan persoalan keselamatan di jalur kereta api. Sistem dan keamanan pada jalur kereta api harus diperbaiki,” tegas Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.

Puan memandang, kecelakaan kereta di kawasan Stasiun Bekasi Timur itu tidak hanya menghadirkan duka karena jatuhnya korban jiwa dan luka-luka, tetapi juga menempatkan kembali keselamatan transportasi publik sebagai ukuran utama kepercayaan masyarakat terhadap layanan harian yang digunakan jutaan orang. 

“Dalam sistem mobilitas perkotaan seperti Jabodetabek, KAI Commuter Line atau KRL bukan sekadar moda angkut massal, melainkan infrastruktur sosial yang menopang ritme kerja, pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat setiap hari,” jelasnya.

Lebih lanjut, Puan menilai kecelakaan antara KRL dan Argo Bromo Anggrek semalam memperlihatkan bahwa jalur padat metropolitan kini bekerja dalam tingkat kompleksitas yang semakin tinggi, mulai dari frekuensi perjalanan meningkat, jenis layanan berbagi lintasan yang sama, dan ruang toleransi terhadap gangguan semakin sempit. 

“Dalam kondisi seperti ini, keselamatan tidak cukup dilihat hanya sebagai kepatuhan prosedur operasional harian, tetapi harus hadir dalam bentuk standarisasi pengamanan yang mampu meyakinkan masyarakat bahwa setiap potensi risiko sudah diantisipasi,” paparnya.

Di tengah tingginya ketergantungan masyarakat terhadap KRL, Puan pun menekankan pentingnya pembelajaran yang harus diambil pascakejadian. Hal ini terkait dengan tingkat keselamatan penggunaan transportasi kereta.

Puan juga mendorong agar investigasi atas kecelakaan tersebut harus menghasilkan pembelajaran struktural yang jelas.

“Dan hasil terpenting dari evaluasi ini adalah memastikan masyarakat melihat bahwa menggunakan KRL tetap merupakan pilihan transportasi yang aman, rasional, dan didukung oleh sistem keselamatan yang terus diperkuat,” tutup Puan. 

 

Comments

Belum ada komentar